SWOT Biar Gak Sewot

SWOT Biar Gak Sewot

Faktor Internal dan Ekternal yang sama2 penting.

Lagi santer berita tentang keluarnya kebijakan pemerintah yg akan mengijinkan asing untuk secara 100% bisa menjalankan berbagai jenis usaha, dari yg sebelumnya diproteksi demi melindungi WNI dan usahanya.

Ada yg berpendapat itu gak masalah. Tujuannya agar kita mempu berbenah diri, gak cengeng, lebih mandiri dan siap dalam menghadapi persaingan yg memang mau gak mau akan selalu ada. Jangan selalu bergantung pada faktor luar seperti pemerintah dan lainnya. Harus kuat.

Ada juga yg berpendapat bahwa pemerintah tetap harus mampu melindungi kepentingan warganya. Memproteksi. Agar lebih menjamin keberlangsungan eksistensi pengusaha lokal. Hal yg masih dilakukan oleh negara dan pemerintahan manapun. Termasuk US dengan presidennya sekarang yg dikenal sangat nasionalis.

Sama halnya dengan perdebatan tentang benarkah kita harus mewaspadai adanya usaha2 yg mendistrupsi usaha konvensional ?. Atau itu hanya hoax. Yg sebenarnya terjadi adalah kekurangbagusan suatu usaha sehingga tergantikan oleh usaha lain dengan konsep, model bisnis dan sistem yg lebih baik. A good business is a good business, no distruption will effect.

Saya ingin melihatnya secara lebih seimbang. Akhirnya teringat kembali kepada SWOT.

Seperti diketahui, dalam SWOT ada faktor internal dan eksternal. Faktor internal ada pada Strenght dan Weakness. Sedangkan faktor ekternal ada pada Opportunity dan Threat.

Betul sekali bahwa terkait kemandirian usaha, maka kita harus mampu memunculkan dan meningkatkan Kekuatan. Dan sebaliknya mengurangi klo perlu menghilangkan Kekurangan kita. Hal ini yg masih mampu kita kendalikan. Yg masih mampu kita ubah dan kondisikan. Terkhusus kelas UMKM, sudah gak diragukan kemampuanya bertahan di saat2 krisis yg telah datang berkali-kali. Bahkan kemampuan yg lebih kuat dari kelas korporasi sekalipun.

Tapi ada hal yg memang harus mampu dikerjasamakan antara rakyat yg dalam hal ini pengusaha dengan pemerintahan negaranya, yg memegang kendali kebijakan. Memang ada saling ketergantungan. Tidak bisa dipisahkan. Disinilah Peluang diadakan, seperti kerjasama ekonomi dengan negara lain. Dan Ancaman diminimalkan seperti proteksi bagi usaha dan produk lokal, baik dengan mengurangi impor atau pajak tinggi untuk asing. Hal wajar yg dilakukan di berbagai negara di dunia.

Hal sama dilakukan dengan kasus distrupsi tadi. Contoh yg bagus adalah usaha taksi. Taksi online dianggap sebagai distrupsi oleh taksi konvensional. Memang demikian adanya. Dengan tarif yg lebih murah dan kemudahan akses, taksi online mampu menarik perhatian pengguna.

Tapi perusahaan taksi BlueBird yg awalnya mengalami efek distrupsi mulai menyadari Strength dan Weakness nya, dan secara internal melakukan perbaikan. Seperti berkerjasama dengan aplikasi taksi online, bikin aplikasi internal sendiri dan meningkatkan performa supir dan kendaraan. Lama kelamaan ada kasus2 keluhan terhadap taksi online dan pengguna merasakan perbedaan kualitas, akhirnya ada yg kembali menggunakan BlueBird.

Namun demikian taksi konvensional juga gak bisa hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri semata. Tetap dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk menerapkan kebijakan terkait taksi online, karena itulah tugasnya. Saling terkait, saling ketergantungan dan membutuhkan.

Jadi, jangan lagi saling klaim argumentasi tentang mana yg benar2 ya karena bisa jadi kedua pendapat ada benarnya. Karena memang dibutuhkan keduanya. Kembali ke SWOT, biar ga Sewot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *